Status di Myanmar Makin Sulit

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Myanmar  semakin kusut sejak kudeta militer 1 Februari 2021 lalu, di setiap hari rakyatnya terus menentang yang ingin pemerintahan dikembalikan secara demokratis, kini sebesar kelompok etnis bersenjata mulai bangkit bersama rakyat melawan rezim militer.

Rakyat Myanmar yang lari ke hutan karena kebiadaban pasukan keamanan, kini juga sedang berjuang keras melakukan latihan dasar peperangan.

Dilansir Merdeka. com mengutip The New York Times , Rabu (24/3/2021), mereka tercatat sejumlah mahasiswa, aktivis, dan pekerja kantoran. Di di dalam hutan mereka berlatih dengan jalan apa mengokang bedil, menarik pasak granat, dan memasang peledak api.

Mereka meyakini melayani balik adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan pasukan bersenjata yang dinilai paling sewenang-wenang di dunia itu.

“Kita harus menyerang balik mereka. Ini kedengaran agresif, tapi saya percaya kita kudu mempertahankan diri kita tunggal, ” kata salah seorang diantara mereka tanpa menyetujui menyebutkan identitasnya.

Sementara itu, The Irrawaddy melaporkan, Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), sebuah kelompok etnis bersenjata gede yang berbasis di Negeri Bagian Kachin, telah mengambil bukit penting yang penting di Distrik Bhamo dengan dikuasai oleh militer Myanmar.

Petugas informasi KIA Kolonel Naw Bu mengatakan, Batalyon 30 KIA telah menggempur pos terdepan militer Myanmar di Bukit Alaw di dalam hari Rabu pukul 5 sore dan telah menghaki bukit tersebut sekitar pukul 4 pagi pada keadaan Kamis.

“Bukit Alaw relatif dekat dengan perbatasan China.   Dari segi tentara relatif strategis.   Pasukan Inggris dikerahkan di sana selama Perang Dunia II.   Laporan bahwa awak telah menduduki tiga gardu terdepan tidak benar.   Selebihnya hanya sekelompok pembela yang menjaga pos terdahulu, ” kata Naw Bu.

Ia mengatakan, pukulan itu dilakukan sebagai ganjaran atas serangan militer pada pos terdepan KIA depan Laiza, yang berada pada bawah kendali markas KIA, katanya.

“Pasukan rezim tentara menembaki pos kami dalam Bukit Hpalap, dekat Laiza dengan artileri sepanjang suangi pada tanggal 22 Maret. Mereka menembak lagi ke Batalyon 3 di Sadone keesokan harinya.   Itu telah melakukan penyerangan semasa dua hingga tiga hari, ” ujarnya.

“Peluru artileri mereka jatuh di kemah kami.   Yang bertambah buruk, peluru artileri selalu jatuh di kamp Hkau Sau [di perbatasan China] dan di wilayah China, ” tambah Naw Bu.

KIA mengklaim bahwa dua peluru artileri jatuh dalam wilayah China pada hari Selasa.   Militer Myanmar belum memberikan komentar.

“Kami mendengar suara tembakan sampai Rabu malam.   Tapi semuanya baik-baik saja di kota.   Semua karakter aman, ”kata seorang masyarakat Laiza.

Menanggapi ketegangan dengan meningkat, penduduk di barak pengungsian Weichyai menggali wadah perlindungan bom bulan tersebut.

Militer dan KIA pantas dalam proses merundingkan gencatan senjata sebelum kudeta satu Februari.   Kelompok bersenjata Kachin meminta Komando Memajukan militer untuk tidak membahayakan pengunjuk rasa Kachin dengan menentang rezim militer.

Besar warga sipil ditembak pasif dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan terhadap pengunjuk rasa anti-rezim di ibukota Negara Bagian Kachin, Myitkyina, pada 8 Maret. Seorang pengunjuk rasa ketiga ditembak mati di Hpakant di dalam 14 Maret.

Tiga keadaan setelah pembunuhan Myitkyina, KIA menggerebek pos militer dalam pusat penambangan batu giok, Hpakant, dan menyerang pos militer lainnya di Kotapraja Injangyang pada 15 Maret.

Ketegangan militer di Myanmar juga meningkat di Negara Bagian Shan Utara kurun kedua belah pihak. (*)