SMA Pradita Dirgantara Gelar FGD 5 Laws of Learners-Centered Teaching

SMA Pradita Dirgantara Gelar FGD 5 Laws of Learners-Centered Teaching

TIMESINDONESIA, BOYOLALI – SMA Pradita Dirgantara menyelenggarakan Forum Grup Discussions (FGD) bertajuk “5 Laws of Learners-Centered Teaching”. FGD ini membahas tentang 5 langkah pembelajaran efektif yang disampaikan Direktur Direktorat Pengembangan Sekolah Pradita Dirgantara, Rabu (23/12/2020).  

Dwi menjelaskan terpaut student centered dan learned centered. Ia menyampaikan perbedaan antara student centered dan learned centered itu sendiri. Student Centered lebih memfokuskan pada kebutuhan siswa, yang menyusun orientasi menjadikan pendidikan sebagai suatu produk dan konsumennya adalah anak sehingga membuat tujuan dari pendidikan adalah memuaskan konsumen, padahal tak demikian, didalam pendidikan, konsumen tidak bisa selalu benar, dan tak ada garansi uang kembali, serta uang yang dibayarkan bukan buat membeli kelas.  

“Sedangkan Learned Centered memfokuskan perhatian secara langsung kepada pembelajaran, yaitu menyangkut soal apa yang dipelajari siswa, bagaimana jalan siswa tersebut belajar, dalam status bagaimana siswa belajar, apakah anak memperhatikan dan menerapkan pembelajaran, dan bagaimana pembelajaran siswa pada saat ini dan pembelajaran di periode depan. Sehingga cakupannya jauh bertambah luas, ” kata Dwi.

Ia membaca ada sejumlah perbedaan karakteristik di dalam learned-centered students diantaranya adalah menyelami mengapa mereka harus belajar dan bagaimana cara belajar, mempunyai self awareness tentang kemampuan belajar mereka dan bagaimana proses mencapai hal itu, bertanggung jawab dan mempersiapkan diri menjadi warga negara yang berpengetahuan dan dapat mengambil itu semua.

Selanjutnya Dwi menjelaskancara melatih pembelajaran untuk menjadi learned-centered melalui 5 aturan. “Pertama, the balance of power; kita semua mempunyai kekuatan sebagai guru untuk mengajar, jadi kita harus membagikan kekuatan tersebut kepada siswa. Kontrak belajar pada awal semester bertujuan untuk assesment, termasuk peraturan kelas dan program. Kita harus flexible dalam mewujudkan silabus yaitu dengan melakukan penelitian yang bertujuan untuk membuat siswa menjadi critical thinker. Yang ke-2 adalah the function of the content; konten bukan menjadi arah tetapi itu merupakan bagian daripada proses, ” jelasnya.  

Dwi mengutarakan proses ini harus dimengerti oleh siswa dan supaya siswa menjadi seorang critical thinker dan menyenangi materi pembelajaran di kelas. Ketiga adalah the role of the teacher; atau peran seorang kiai. Berikutnya adalah the responsibility for learning; apabila tidak bertanggung pikiran terhadap pembelajaran, maka mereka bakal pasif, siswa tidak akan membenarkan diri terhadap kemampuan mereka. Dan yang terakhir adalah evaluation purpose and processes; dalam melakukan assessment haruslah jelas mengukur apa dengan ingin diukur.

“Pembelajaran merupakan kolaborasi kurun siswa dan guru untuk membikin sebuah pengetahuan, ” katanya.   Pak Dwi.

Sebelum sesi FGD ditutup, ada tambahan materi terkait filsafat pedagogi oleh Dr. Sutanto, DEA. Sutanto megatakan Georges Pire pernah menjelaskan terkait Stoikisme dan Ilmu pengajaran, dalam mazhab Stoik dia membicarakan logika dan fisika (kejadian fakta). Stoikisme, juga disebut Stoa ialah nama sebuah aliran atau paham Filsafat Yunani Kuno yang dibangun di kota Athena, Yunani, sebab Zeno dari Citium pada pokok abad ke-3 SM. Ajaran madrasah atau mazhab Stoa ini dapat disimpulkan bahwa pijakannya adalah meliputi perkembangan logika (terbagi dalam retorika dan dialektika), fisika, dan etika (memuat teologi dan politik). Prinsip yang mencolok tentang etika adalah bagaimana manusia memilih sikap tumbuh dengan menekankan apatheia, hidup berserah atau tawakal menerima keadaannya dalam dunia.

“Stoa juga memiliki doktrin terpaut pedagogi. Doktrin pedagogi stoa terdiri dari asas-asas berikut; pendidikan sopan, yaitu pendidikan di savoir-vivre / savoir-être yang harus memungkinkan kanal ke kebijaksanaan dan kebahagiaan, harus didahulukan daripada bentuk pendidikan lainnya. Guru harus menjadi teladan sopan dan memiliki kemauan untuk maju dan beradaptasi dengan profil siswa. Pendidikan dimulai dari buaian serta tidak berakhir sampai kematian. Sesudah dewasa, anda harus mendidik diri sendiri. Pendidikan intelektual dan/atau jasmani harus diartikulasikan dan di bawah pendidikan moral, ” kata Tanto.

FGD ini bertujuan untuk membekali segenap guru SMA Pradita Dirgantara mengenai bagaimana memberikan pembelajaran yang unggul bagi para peserta didik. Pendidikan merupakan kolaborasi siswa dengan kiai sehingga guru yang baik akan memberikan dampak yang baik juga bagi para siswa. Diharapkan sesudah FGD ini dilaksanakan guru dapat memberikan pembelajaran secara lebih indah lagi sehingga dapat membawa SMA Pradita Dirgantara terbang mendunia, serupa apa yang menjadi visi sekolah ini.   (*)