Sejarah Hari Ini: 9 April, Peringatan Hari TNI AU

sejarah-hari-ini-9-april-peringatan-hari-tni-au-3

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sejarah hari itu akan membahas mengenai peringatan Hari TNI AU. Peristiwa lain dari Indonesia adalah dibentuknya kabinet karya oleh Soekarno pada 1957. Kemudian di tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan Keadaan Raya  Imlek sebagai hari libur nasional yang tercatat dalam aturan Keppres 9/2001. Berikut masing-masing ulasan ketiga peristiwa tersebut:

1946:   Peringatan Hari TNI AU

TNI AU lahir dari pendirian badan keamanan bernama BKR (Badan Keamanan Rakyat) pada tahun 1945. Nama- nama badan keamanan tersebut berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Yang mana BKR menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 3 Oktober 1945, kemudian menjelma TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 23 Januari 1946. Hingga perubahan terakhir berlaku pada 9 April 1946 sebagai Angkatan Udara Republik Indonesia, sekaligus merupakan peresmian nama menjadi TNI AU (Tentara Nasional Indonesia kepala Angkatan Udara).

Tahun ini, Hari TNI AU ke-75 mengambil tema “Dilandasi Nyawa Ksatria, Loyal, Militan & profesional, TNI AU siap mendukung percepatan penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional”.

1957:   Kepala Soekarno Membentuk Kabinet Karya

Kabinet karya dapat disebut juga Kabinet Juanda dalam keputusan kepala nomor 108 tahun 1957. Saat itu, Presiden Soekarno menunjuk Djuanda Kartawidjaja sebagai Perdana Menteri. Saat dibentuk, kabinet karya memiliki lima program yang diunggulkan jarang lain membantuk dewan nasional, menormalkan kondisi Republik Indonesia, Pembatalan KMB, berjuang untuk mendapatkan Irian Barat, dan percepatan pembangunan.

Proses pendirian kabinet karya didasarkan dengan adanya sentimenndari berbagai suku di Indonesia kala itu. Tidak itu saja, masalah-masalah lain seperti pengalihan kekuasaan  sipil Sumatera Utara sampai ditentangnya pemikiran Soekarno menghantam Demokrasi liberal dari berbagai organisasi seperti Masyumi. Jadi Perdana Menteri, Djuanda harus bekerja dalam masa pertukaran perpindahan demokrasi liberal menuju demokrasi terpimpin.  

2001:   Gus Dus  Tetapkan Imlek sebagai Hari Libur

Pada masa Presiden Soeharto, etnis Tionghoa tidak dapat secara terang-terangan merayakan tahun gres China atau Hari Raya Imlek. Diskriminasi juga banyak dirasakan oleh etnis Tionghoa. Namun hal ini mulai berubah saat Soeharto geser dan digantikan oleh BJ Habibie. Saat itu,   Presiden RI ke-3 tersebut menghapuskan aturan yang bersemangat diskriminatif terhadap masyarakat Tionghoa. Aturan tersebut tertuang di Inpres nomor 26 tarikh 1998 yang didalamya melupakan bahasa pribumi maupun non-pribumi.

Namun, kemerdekaan bagi etnis Tionghoa  datang di kurun Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden RI ke-4 ini menerbitkan Keppres no. 9/2001 berisi Keadaan Raya Imlek sebagai keadaan libur fakultatif. Maksudnya ialah libur yang hanya valid bagi yang merayakannya. (*)