Sapardi, Lelaki Tua dan Laut, Mengikuti Kisah Puisi Esai

Sapardi, Lelaki Tua dan Laut, Mengikuti Kisah Puisi Esai

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mengenang Sapardi Djoko Damono (1940-2020)….

Ketika mendengar wafatnya penyair besar, Sapardi Djoko Damono, pikiran saya melayang  pada kisah sekitar 40 tarikh lalu. Tahun 80an. Itu zaman saya membaca novel Lelaki Tua dan Laut, terjemahan karya Ernest Hemingway. Sapardi Djoko Damono dengan menerjemahkannya.

“Manusia mampu dihancurkan. Tapi ia tidak ditaklukan. ”

Ini fragmen terkenal dari novel Ernest Hemingway tentang novel itu. Ia menyusun novel The Old Man and The Sea, tahun 1952. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 31 tahun kemudian. Lelaki Tua & Laut, terbit tahun 1983.

Tahun 1982, usia beta baru 19 tahun. Berulang semrawut ulang saya membaca novel  aslinya dalam bahasa Inggris: the Old Man and The Sea.  

Saya mendengar tersebut novel yang sangat bagus. Tapi bahasa Inggris saya masih buruk. Berulang saya membacanya. Tapi lestari tak mengerti isi novelnya. Apalagi simbol dan makna dibalik lakon itu.

Akhinya pada tahun 1983, saya membaca makna bahasa Indonesia. Teringat masa itu. Lama saya merenung dengan dongeng nelayan tua dari Kuba, bertanda Santiago.

Kisah itu ikut menumbuhkan spirit perjuangan.   Ini era ketika saya sungguh-sungguh sekali mencari identitas diri.

Santiago, nelayan tua,   di novel itu termenung. Ia boleh dihancurkan oleh nasib buruk. Tapi ia tidak boleh dikalahkan.

Sudah hari ke 84 Ia melaut. Santiago tak kunjung mendapatkan Ikan. Komunitasnya sudah bergunjing. Selesai sudah era Santiago sebagi nelayan.

Anak muda yang rajin menemaninya melaut, Manolin, sudah diperingati Ayahnya.   Daripada, Manolin menemani lelaki tua itu, yang tidak lagi berdaya, sebaiknya Manolin mengawani nelayan lain, yang lebih sukses.

Hari itu, hari ke 85, Santiago bertekad. Ia tak boleh dikalahkan oleh kadar buruk. Ia pun bertekad berangkat ke laut paling jauh. Ia berniat membawa Ikan, jika bisa, yang paling besar.

Datanglah momen itu. Santiago mendapatkan ikan besar. Tapi itu tak semudah yang ia bayangkan. Perut hari dua malam, ia bersabung agar ikan itu menyerah. Yang terjadi, ikan itu malah menarik perahunya ke tengah laut, dengan buas.

Akhirnya, ikan besar itu bisa Ia kalahkan. Tapi dalam perjalanan laut menuju rumah, begitu banyak Ikan Hiu. Satu persatu, ikan Hiu tersebut bisa ia halau.

Di tengah malam, Santiago kelelahan. Ia tertidur lelap. Ikan mulia yang berhasil ia tangkap, yang ia seret di perahunya, berakhir dimakan ikan hiu. Haya kondisi tulang yang bisa ia bawa pulang.

Betapa takjub Santiago. Susah payah ia menggagalkan Ikan. Sudah disiapkannya berita indah untuk penduduk. Kini ia hanya membawa tulang saja.

Nelayan tua itu pulang. Walau yang tersisa hanya kerangka terampil ikan, tapi penduduk tahu, tersebut ikan yang sangat besar. Penduduk memberi hormat padanya.

Santiago, lelaki tua itu, nelayan yang sudah melemah itu, menyadari. Fisiknya boleh menua. Tapi tahanan ikan besar itu, walau cuma tersisa tulang, menjadi bukti. Spiritnya masih sangat kuat. Ia tak menyerah. Ia tidak kalah. Dia terus berjuang.

                                                                                                  -000-

Itulah kali pertama aku mengenal sentuhan Sapardi Djoko Damono. Sapardi yang menerjemahkan novel itu menjadi enak dibaca. Indah. Mengalir. Gurih.

Nama Sapardi Djoko Damono mulai menetap dalam memori saya.

Era itu, Sapardi sudah menjadi penyajak terkenal. Buku puisinya Dukamu Langgeng, terbit tahun 1969. Itu 12 tahun sebelum Sapardi menerjemahkan roman.

Sudah terbit pula tiga buku puisinya yang lain: Akuarium (1974), Mata Pisau (1974), serta Perahu Kertas (1983).

Tapi saya saat tidak banyak membaca puisi Sapardi.   Saya lebih senang fiksi dengan banyak drama.

Pertemuan saya berikutnya dengan Sapardi pada tahun 2012. Sekitar 30 tahun kemudian. Ini pertemuan penting di dalam hidup saya sebagai penulis sajak. Sekitar 3 bulan lamanya, aku intens berjumpa dengan Sapardi.

Saya  sedang menjadi konsultan politik. Sudah 9 tahun kami tenggelam di dunia politik praktis dan riset opini publik. Saya juga mulai merintis usaha kecil – kecilan.

Sudah 9 tahun pula saya tak lagi menulis kolom di koran. Padahal dulu, saya penulis kolom yang yang produktif sekali. Telah 1000 kolom saya tulis. Serta sudah pula sebagian kolom dibukukan menjadi sekitar 20 buku. Kepala kumpulan kolom di satu koran menjadi satu buku.

Kerinduan saya menulis datang sedang. Tapi kali ini tidak esai, tidak kolom. Kepada teman jodoh dekat, saya katakan saya “hamil tua. ” Saya ingin menulis lagi. Itu dunia lama yang mendarah daging.

Aku ingin menulis puisi. Kisah yang ingin saya ekspresikan kasus diskriminasi di Indonesia. Ia memfiksikan lakon sebenarnya. Semacam historical fiction. Atau true story- Fiction. Gabungan tanda dan fiksi. Kombinasi cerita serta berita.

Pola  itu tak sesuai dengan  puisi yang ada sekarang. Saya ingin sajak panjang seperti novel. Juga ada catatan kaki seperi makalah keilmuan. Ini kebutuhan kisah diskriminasi tersebut.

Draf lima sajak panjang sudah jadi. Saya belum tahu harus diberi nama apa puisi seperti ini. Layakkah? Saya tak ingin nanggung.

Usia  saya di tahun 2012 hampir 49 tahun. Sudah terlalu tua jika hanya menulis sajak iseng-iseng. Terlambat pula jika saya sekedar menjadi follower dari apa yang ada.

Aku perlu seorang penyair senior buat diskusi. Ingin saya tahu apa pendapatnya? Apa sarannya? Saya ingin Ia menjadi partner kritis namun juga konstruktif.

Sapardi Djoko Damono menjadi pilihan baru. Itu karena disamping penyair, dia juga akademisi. Ia doktor pada bidang sastra. Ia juga profesor ilmu sastra. Ia pernah menjadi dekan

Ia pernah memimpin jurnal sastra. Ia serupa pernah mengurus pusat dokumentasi sastra. Juga akademi Jakarta.   Sapardi sosok sastrawan yang lengkap.

                                                                                                                -000-

Datanglah momen itu. Saya kurang tepatnya. Entah akhir 2011, atau awal 2012. Yang jelas, berbulan sebelum April 2012, karena wacana puisi esai saya pertama, Berasaskan Nama Cinta, terbit tahun 2012, bulan April.

Sapardi datang bertandang ke kantor saya. Saat itu, usianya 72 tarikh. Saya merasa terhormat, Ia sendiri memilih ingin datang ke kantor.

Ia membawa beberapa jurnal puisi, terbitan bahasa Inggris: Poetry. Saya ingat kalimat pertamanya. Ia memanggil saya pak Denny. Saya juga memanggilnya Pak Supardi.

“Pak Denny, buku harian puisi ini untuk anda. Tahun ini tepat 100 tahun usia jurnal ini. Jika anda membaca Jurnal ini sejak kelahirannya tenggat sekarang, anda akan terkesima. Memori perjalanan puisi dunia semua terekam dalam artikel di serial buku harian ini. ”

Beta tak ingat kata- kata detailnya. Uraian di atas saya renggut secara bebas dari memori.

Ujar Sapardi lagi, “Saya merindukan terbit jurnal puisi seserius ini untuk Indonesia. Bagus jika satu ketika pak Denny tergerak untuk ikut mempublikasikannya. ”

Kami pun terlibat di dalam percakapan panjang soal kemungkinan beriringan menerbitkan jurnal sejenis Poetry.

Lalu saya pun memulai maksud berdiskusi dengannya. Saya berikan draft cetak buku Atas Tanda Cinta. Saya ingin, Sapardi membaca buku ini. Jika bisa, meluluskan pengantar.

Saya ceritakan juga. Saya perlu nama buat jenis puisi ini. Apakah pak Sapardi punya nama yang betul?

Sapardi berjanji membacanya. Apakah Ia bersedia memberi pengantar? Ujarnya, soal itu kita bicarakan kemudian. Ia ingin membacanya zaman.

Kembali Sapardi bersemangat bercerita soal Jurnal Poetry tersebut.   Ia juga banyak mengarang kekecewaannya atas majalah puisi ataupun satra di Indonesia.

Sekitar 80 persen percakapan ana dalam jumpa tersebut, isinya kami mendengar Ia bercerita soal Buku harian Puisi.

-000-

Setelah pertemuan itu. Setelah Sapardi membaca draft buku puisi Atas Nama Cinta. Kami berjumpa lagi. Jika tak salah, ana berjumpa di Kafe saya, Pisa Kafe, di Menteng.

Di luar dugaan saya, Sapardi semangat sekali. Ia katakan, “Pak Denny membawa cara baru penyusunan puisi. Catatan kaki di puisi ini istimewa. Memang sudah banyak puisi dengan catatan kaki. Akan tetapi ini catatan kaki yang bertentangan. Ia berisi  kumpulan data dan fakta.

Tak hanya cara penulisan. “Tapi isi puisi pak Denny pun berbeda. ” Ia memuji saya membawa topik yang jarang dibicarakan dalam puisi Indonesia. Seperti Isu Ahmadiyah. Isu LGBT.

Sapardi menyatakan bersedia memberi pengantar. Semua yang ia katakan itu, Ia mau masukkan dalam pengantarnya. ( https://www.facebook.com/groups/970024043185698/permalink/988143041373798/ )

Kamipun berdiskusi soal nama yang tepat untuk jenis puisi ini. Sapardi sempat membicarakan: Puisi Naratif. Prosa Liris. Puisi Berita. Puisi Investigatif.

Saya tanyakan, bagaimana jika namanya Puisi Esai? Sapardi mengkerutkan kening. Ujarnya, memang sudah ada Foto Esai. “Tapi tak apa bungkus Denny memberi nama Puisi Tulisan. Pak Denny yang merumuskan sajak ini. Ya Pak Denny pula yang berhak memberi nama, ” ujar Sapardi.

Dalam kata pengantar buku saya itu, Sapardi juga menulis:

“Gagasan dan karangan yang diberinya label Puisi Esai penting buat dicatat dalam perkembangan puisi kita. ”

“Saya taksir ia tidak perlu risau apakah jenis puisi yang dipilihnya itu akan ditulis juga oleh
penyair lain kelak. Ia telah menawarkan suatu cara penulisan gres, dan itu sudah lebih sebab cukup. ”

                                                                                                                    -000-

Terbitlah kemudian buku puisi esai itu. Respon dunia sastra tiba muncul. Terlebih lagi ketika lahir buku 33 Tokoh Yang Paling Berpengaruh  dalam dunia Sastra Nusantara. Buku itu diterbitkan PDS HB Jassin kerja sama dengan Gramedia. Tebalnya 700 halaman lebih.

Tim 8 dalam buku itu, ikut memilih saya sebagai salah satu penyair yang besar. Puisi esai yang saya perkenalkan, juga diikuti penulis lain. Lahir sudah saat itu lebih sejak 20 buku puisi esai oleh penyair lain.

Sapardi termasuk penyair yang membela sajak esai di publik. Dalam wawancara tahun 2014, dua tahun sesudah terbit buku puisi esai, Sapardi memperkuat apa yang Ia tulis dalam pengantar.

Kalau Ia (Sapardi) belum pernah mellihat dalam sastra Indonesia, puisi secara catatan kaki sebagaimana dalam puisi esai. ( https://m.merdeka.com/peristiwa/sapardi-sastra-mau-tidak-mau-masuk-ke-dalam-kapitalisme.html )

Soal buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh, Sapardi termasuk tenang saja menanggapinya. Ujarnya ini membangun soal opini. Yang tak setuju, ya silahkan membuat opininya tunggal.

Soal bagus & tak bagus itu relatif. Untuk Saya, ujar Sapardi, itu Roman Siti Nurbaya yang diagungkan orang, itu jelek sekali. Juga novel Pramudya, yang bagus hanya Bukan Pasar Malam. Karena Ia meresap penjara, Pram menjadi pahlawan, tersebut gombal.

Demikianlah Sapardi. Ia lurus saja. Berani melayani arus.

Sejak terbit buku Atas Nama Cinta (2012), saya dan Sapardi hanya mengenai sesekali. Kadang saya yang menyebut dulu. Kadang Sapardi yang menyapa.

Sungguhpun sudah betul jarang berjumpa, Jejak Sapardi Djoko Damono abadi dalam perjalanan puisi esai. Kini puisi esai sudah resmi menjadi kata baru pada Kamus Bahasa Indonesia. Selamat timah Senior. Selamat jalan, Maestro.

*) Penulis, Denny JA, konsultan politik, aktif menulis puisi esai.

Tulisan ini bisa juga dilihat dalam : https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3052793984816730/?d=n

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi  timesindonesia. co. id