Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting

Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting

TIMESINDONESIA, KALIMANTAN – Angka prevalensi stunting (balita dengan panjang/ tinggi badan pendek serta sangat pendek) di Indonesia masih di atas 20%, artinya belum mencapai target WHO yakni dalam bawah 20%. Beberapa faktor pasal stunting yakni praktek pengasuhan yang kurang baik, serta masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Kedua hal tersebut memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan praktik pemberian ASI eksklusif serta Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).  

MP-ASI merupakan makanan tambahan yang diberikan kepada bayi usia ≥6 bulan selain dari pemberian ASI ala kadarnya. MP ASI penting dikritisi jadi salah satu kiat menanggulangi   stunting karena beberapa hasil studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan penting antara pemberian MP-ASI pada piawai pertama kali diberikan makanan yaitu sebelum, saat, atau sesudah bayi berusia 6 bulan dengan peristiwa stunting   (Hanum, 2019).  

Sayangnya, praktik pemberian MP-ASI di Indonesia belum sepenuhnya benar. Lebih dibanding 40% bayi dikenalkan pada MP-ASI terlalu dini (< 6 bulan) dimana 40% balita usia 6 bulan-2 tahun tidak mengonsumsi makanan yang cukup beragam dan 28% tidak diberikan asupan dengan frekuensi yang cukup sehingga balita itu memiliki kualitas makanan yang tak bergizi. Sekitar 14% tidak mengonsumsi vitamin A dan 29% tidak mengonsumsi makanan yang kaya sumber zat besi pada makanan sehari-harinya (Framework of Action Complementary Feeding, 2019).  

Pemerintah   Indonesia telah sangat serius dalam upaya mengatasinya dengan program-program pada berbagai dasar aksi kerja nasional, Namun, memperhatikan pada hasil penelitian, faktanya, urusan memaksimalkan peran ibu yang bersentuhan langsung dengan praktik pemberian MP ASI pada balita belum sepenuhnya terselesaikan. Sedemikian komprehensifnya strategi dan upaya yang digulirkan, apabila tidak dieksekusi dengan tepat pasti hasilnya akan tetap tidak maksimal. Oleh karena itu, penguatan fungsi serta peran ibu dalam praktik pemberian MP-ASI sebagai langkah penanggulangan stunting sudah seharusnya kembali ditekankan.  

Kesehatan   Mental dan Wawasan Ibu

Kesehatan mental yang tertib adalah kondisi ketika batin beruang dalam keadaan tentram dan sepi, sehingga memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang asing di sekitar. Mental   ibu sebagai pengendali makanan di panti tangga, terlebih saat pemberian MP ASI bagi balita memegang peranan penting. Banyak ibu yang ngerasa tidak sabar dan stres kala menghadapi balitanya yang sulit santap.

Terlebih lagi pada ibu dengan status pekerja yang memiliki tingkat tekanan dan mobilitas yang lebih agung dibandingkan dengan ibu rumah nikah. Mental ibu dalam hal ini perlu diberikan penguatan dan semangat bahwa praktik pemberian makanan asal bagi balita memang bukan peristiwa mudah, namun tetap dilakukan karena terkait tumbuh kembang anak di masa akan datang.  

Pemberian wawasan kepada ibu hamil dan pasca melahirkan tentang asupan gizi yang benar dan beragam merupakan upaya penting. Mereka   membutuhkan asupan gizi yang cukup dan bervariasi. Keterbatasan pengetahuan ibu akan beresiko pada kesehatan dan pertumbuhan bujang, baik dalam kandungan dan perkembangannya. Hal ini diperkuat oleh pengkajian Rahma (2016) yang berkesimpulan kalau ibu yang balitanya mengalami stunting memiliki pengetahuan yang rendah tentang gizi.

Aspek Ketersediaan dan Akses Pangan 

Salah satu program pemerintah menekan laju stunting melalui kalender bantuan langsung pada masyarakat invalid mampu. Namun hal ini langgeng terkendala, karena sistem kemandirian tak terpola di masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan penguatan kembali ketahanan pangan keluarga untuk tetap menjamin hal ini berlanjut. Diantara program pemerintah yang dapat dikuatkan merupakan pemberdayaan pekarangan. Implementasi program tersebut akan sangat membantu mengatasi keluhan masyarakat akan kurangnya ketersediaan dan distribusi bahan makanan untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan MP ASI lokal yang bergizi. Monitoring Evaluasi oleh petugas di lapangan perlu dilakukan di antaranya terkait praktik pemberian MP-ASI, bisa dibuat di bentuk ceklist, agar bisa dievaluasi secara berkelanjutan. Terkadang, perjanjian non formal seperti ini bisa diterapkan agar ibu merasa ada penjagaan dan dukungan riil dari para-para petugas gizi di lapangan.

***

*) Oleh: Rif’atul Amini, S. GZ,   Dosen Prodi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika  Poltekkes Kalimantan Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya ialah tanggungjawab penulis, tidak menjadi arah tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri dan cetakan telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan pendapat yang dikirim.