Ngopi Pagi: Pemancing

TIMESINDONESIA, MALANG – KALAU bersetuju berlatih kesabaran dalam pengabdian, maka jadilah pemancing sejati sahabat ngopi pagi. Khayalkan, mulai dari memasukkan korban sampai waktu tertentu dihadapkan pada ketidakpastian, tetapi lestari berdiam di satu tempat. Mereka juga hanya menebak nebak suatu tempat yang dipandang ada ikannya. Telah begitu,   sang ikan tidak pernah dapat diperkirakan keberadaan dan kondisinya.

Bagi seorang pemancing, intuisi yang seringkali digunakan untuk menunjukkan titik dimana kail mesti dilepas dan ditunngui sampai batas waktu tertentu. Bila beruntung akan pulang mendatangkan ikan dan diberikan pada sang istri tercinta. Kalau tidak, maka pulang dengan tangan hampa dan mendatangkan kelelahan fisik.

Meski serupa itu para pemancing itu tak putus asa, dan akan terus mencoba. Bagi mereka tantangan mesti dimenangkan. Untuk mereka, justru itulah sisi menarik dari kegiatan memprovokasi. Apalagi saat umpan disambar ikan, adrenalin langsung meningkat. Tantangan sudah nyata didepan mata, tinggal bagaimana memenangkan pertarungan.

Terkadang ikan harus ditarik, terkadang juga tali atau benang juga kudu diulur. Aktivitas itu dilakukan berkali kali, sampai ikan kemudian kelelahan dan taat. Seringkali juga ikan sedang menggunakan kekuatan terakhir buat berusaha lepas.

Dalam pengabdian kita juga harus begitu. Medan pengabdian seringkali penuh misteri. Tidak diketahui wajib dimulai darimana dan apa yang harus dikerjakan. Jika tidak demikian, medannya nyata tapi tantangannya cukup mengandung.

Jika kita mau melihat sejarah, itulah yang dilakukan para ulama terdahulu. Buat mengarahkan ummat pada kesahan, seringkali situasi dan suasana tidak diketahui, tapi tantangan yang menghadang sudah sah. Kesabaran, ketelatenan, dan tekadlah yang selalu menjadi penguat para ulama untuk terus berbuat. Tak ada introduksi menyerah dan terus memeriksa mencari cara yang efektif untuk menuntun ummat supaya selamat dunia dan alam baka.  

Bahkan bagi para-para ulama’ seringkali beranggapan yang lebih menantang itulah dengan lebih menarik untuk dimenangkan. KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri dan para ulama lainnya, adalah bagian daripada contoh saat memulai perjuangan justru memilih tempat dengan demikian. Dan akhirnya kita ketahui semua, para ulama’ lah yang kemudian memimpin pertarungan dalam perjuangan. Bagaimana dengan sahabat ngopi pagi semua?

* ) Penulis  Noor Shodiq Askandar  adalah Ketua PW LP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi  timesindonesia. co. id

_______
**)   Jiplakan TIMES atau  rubik pemikiran di TIMES Indonesia  terkuak untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 ciri atau sekitar 600 prawacana. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

**)   Naskah dikirim ke alamat e-mail:   [email protected] co. id