Ngopi Pagi: Mode

ngopi-pagi-mode-1

TIMESINDONESIA, JAKARTA – SAHABAT ngopi pagi, kita ini seringkali terjebak oleh sebuah tren atau mode dalam melakukan hidup ini dan kemudian melupakan esensi. Keinginan mengikuti mode yang lagi digandrungi, lebih besar dari jumlah yang seharusnya dijaga untuk sebuah keputusan. Bahkan bila tidak mengikuti sesuatu dengan lagi disukai oleh banyak diantara kita, kita ini akan dianggap orang yang kuno, kolot, dan kurang pergaulan. Ada juga yang menyebut secara bahasa guyonan, bahwa berpelesir kita masih kurang jauh.

Dalam urusan transportasi, seringkali kendaraan dianggap sebagai salah satu identitas sebuah kesuksesan. Yang kendaraannya makin berkelas, dianggap ekonominya lebih kuat daripada yang lain. Rumah kadang-kadang juga dianggap sebagai simbol pencapaian seseorang dalam kesibukan ini. Makin besar serta bagus, maka akan dianggap jalan menuju puncak kehidupan lebih lebar dari yang lain. Bahkan sudah ada juga yang menunjukkan kelas kehidupan dengan mencarter satu pesawat untuk seorang suami istri saja,   menggunakan jet pribadi sebagai instrumen transportasi, dan lain sebagainya

Acara acara televisi saat ini ini juga dipenuhi oleh pameran kekayaan, kemewahan hidup, dan sejenisnya. Tidak sekedar mobil yang dipamerkan, bakal tetapi termasuk juga berapa besar pengorbanan uang ekslusifitas untuk mendapatkannya dan eksklusivitas dari barang yang dimilikinya. Makin sedikit yang punya, dan makin aneh cara perolehannya, akan menjadi arah dari wujud kelas kehidupannya. Seorang anak muda bahkan karena tidak bisa rebah, kemudian membeli mobil mewah dengan harga milyaran.

Benar semua ini tidak lupa, karena yang dipakai ialah kekayaannya sendiri. Bukan milik orang lain. Bukan sebab mencuri, dan bukan pula dari korupsi. Semua diperoleh dari kreativitas dan aksi pribadi yang kemudian menghasilkan pendapatan yang luar piawai. Seorang youtuber saja mampu menghasilkan pendapatan milyaran dalam sebulan. Kreator cerita kesibukan juga bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Begitu juga ada yang memperolehnya dari kesuksesan berbisnis dengan digelutinya.

Akan tetapi apakah ini yang harus dikerjakan. Dalam Islam kita selalu diajarkan untuk tidak mempertontonkan, tidak riya’, tidak ujub, dan hal sejenis lainnya. Kenapa demikian? Pertama, kekayaan itu adalah titipan dengan harus diperuntukkan sesuai amanatnya, baik untuk diri sendiri, untuk orang lain, maupun untuk Allah swt. Ke-2, harta itu sebetulnya sarana untuk ibadah mendekatkan diri kepada dzat pencipta. Secara kekayaan yang dimilikinya karakter bisa lebih mudah & tenang dalam beribadah. Ke-3, jika memamerkan kekayaan itu terus berlanjut, akan bisa memunculkan kesenjangan yang gembung antar ummat manusia, jadi bisa memunculkan kerawanan dan kriminalitas baru dalam keseharian. Keempat, memamerkan kekayaan tersebut bagian dari ahlaq yang buruk karena lebih membuntuti nafsu daripada keinginan untuk berbagi. Kelima, ingat Tuhan swt bisa mengurangi & mencabut kekayaan itu teks saja, tanpa memberi aba aba terlebih dahulu.

Oleh karena itu, dalam kehidupan ini jangan hanya memasukkan hawa nafsu agar dianggap mengikuti trend atau mode dalam kehidupan, akan tetapi jangan sampai melupakan essensi yang sebenarnya atas seluruh yang diamanatkan Allah swt kepada ummat manusia. Dengan jalan apa dengan sahabat ngopi cepat semua???

* ) Penulis  Noor Shodiq Askandar  adalah Kepala PW LP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi  timesindonesia. co. id

_______
**)   Model TIMES atau  rubik pendapat di TIMES Indonesia  terkuak untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 ciri atau sekitar 600 sekapur. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri & nomor telepon yang mampu dihubungi.

**)   Tulisan dikirim ke alamat e-mail:   [email protected] co. id