Kesiapan Perguruan Tinggi Survive pada Era New Normal

Kesiapan Perguruan Tinggi Survive pada Era New Normal

TIMESINDONESIA, SIDOARJO – Untuk mencegah penyebaran covid 19, Menteri Pendidikan dan kebudayaan mengimbau penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi dilakukan secara daring atau melancarkan daring. Semua elemen yang terlibat baik dosen, mahasiswa, staf melangsungkan aktivitas kegiatan pembelajaran dan tata laksana melalui daring.

Selama masa penyesuaian itu, muncul opini pro kontra pada kalangan mahasiswa dan dosen jadi personel yang bertanggungjawab melakukan memindahkan knowledge karena berbagai kendala serta keterbatasan sarana prasarana, kemampuan meminta teknologi yang berkembang secara segera.
Belum stabilnya kondisi bervariasi zona penyebaran menjadi dilema kira-kira perguruan tinggi dalam penerapan pembelajaran apakah  100% menggunakan media menelaah daring atau ada pertimbangan melakukan kegiatan tatap muka dengan level komposisi tertentu dan tetap menghiraukan protokoler kesehatan.

Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Gajah Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pun belum menganjurkan kepada semua sekolah tinggi untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka secara sepenuhnya. Berbagai jajak pendapat dilakukan buat mendapatkan respon terhadap penerapan pembelajaran daring.

Hasil jajak pendapat di kampus menunjukkan bahwa belajaran daring tak sepenuhnya berjalan efektif. Ketidaksiapan pengajar dalam hal materi masih dirasa kurang dengan media pembelajaran dengan berbeda-beda. Beberapa media yang dimanfaatkan beraneka ragam, mulai dari e-learning kampus, zoom meeting, google meet, google classroom, bahkan masih ada beberapa dosen yang menggunakan jalan whatsapp dan voice note.

Di sisi lain, mahasiswa mengeluhkan kebutuhan paket kuota internet yang berlebih padahal dari pihak kampus sudah memberikan bantuan sokongan untuk paket internet, namun masih jauh dari cukup. Belum teristimewa ditambah dengan kurang pahamnya mahasiswa terhadap materi yang diberikan dosen melalui daring, yang jauh bertentangan dengan metode pembelajaran tatap muka.

Suasana pandemi juga memberikan dampak di dalam berkurangnya pemasukan dana bagi kampus karena kondisi mahasiswa yang terdampak, menyebabkan kampus harus sesegera mungkin menemukan solusi dan strategi-strategi gres agar bisa bertahan, apalagi untuk perguruan tinggi swasta.
Petunjuk mahasiswa baru dimasa sulit itu juga dirasakan di banyak madrasah tinggi. Jumlah mahasiswa baru mendarat drastis dan tentu saja bakal berdampak pada tingkat pemasukan biaya untuk menutupi biaya operasional kampus. Masa pandemi ini memang memaksa semua pihak untuk berpikir berpenat-penat agar bisa bertahan. Tidak hanya dunia pendidikan namun banyak sektor merasakan hal yang sama.

Masa pandemi memang memukul telak hampir pada semua sektor, namun menyerah tidak hal yang tepat. Bagaimanapun sekolah tinggi harus mampu bertahan dengan berbagai cara agar lulusannya memiliki kompetensi  dan capaian pembelajaran lulusan dengan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Beberapa strategi yang dilakukan mungkin terlihat ekstrem namun kondisi pandemi mendesak semua pihak untuk saling menyadari. Efisiensi beban mengajar dosen juga harus dirombak, keikutsertaan para civitas akademika untuk melakukan promo pada masyarakat, memberikan program-program penawaran khusus kepada calon mahasiswa baru adalah langkah awal untuk mendongkrak level penerimaan mahasiswa baru.
Kelebihan media pembelajaran, materi, studi kasus, pendidikan karakter harus disesuaikan dengan kondisi agar mahasiswa, dosen, staf, lulusan mampu bertahan di era pandemi. Keterampilan sivitas akademika untuk mencari informasi resmi di dunia kampus juga harus dipahami molek penggunaan e-learning dan bagaimana penerapan sistem informasi lainnya melalui email dan media sosial lainnya.
Kurangi membaca berita-berita negatif serta hoaks agar semua orang berpendirian positif. Banyak hal bisa dilakukan mahasiswa dan lulusan memiliki softskill agar mampu bertahan dalam masa sulit. Berbagai kegiatan untuk mahasiswa dimasa pandemi bisa dilakukan dengan menambah kemampuan literasi, cara menyusun, membaca yang baik dan benar, dosen dan mahasiswa aktif ikut serta baik sebagai pemateri maupun peserta webinar gratis untuk meningkatkan kompetensi.

Dosen memberikan tugas kelompok untuk menumbuhkan sikap partnership, leadership, dan kepedulian. Meningkatkaan daya mahasiswa untuk menggunakan media-media om google docs, google form, google sheets dan berbagai  media sharing dikarenakan tuntutan kondisi yang mengharuskan semuanya serba online. Dosen juga tetap meningkatkan kemampuannya dalam hal teknologi tanpa alasan dan dilaksanakan menetapkan kebaikan bersama. Penambahan intensitas webinar bagaimana cara mengatasi stres, mengalihkan kejenuhan menjadi kegiatan produktif misalnya menulis buku, puisi, cerita kompak selama masa pandemi dan penuh hal.

Perguruan tinggi juga mulai menilai, dan bahkan menghilangkan posting biaya-biaya yang tidak perlu agar lulus dana untuk bertahan dimasa pandemi.

Periode pandemi ini memang berat, tetapi jika diatasi bersama-sama dengan afeksi tinggi untuk bisa bertahan, insyaAllah semua akan teratasi. Siap tidak siap, perguruan luhur harus siap walaupun dengan “terseyek-seyek” sekalipun. Tetap sifat dan optimistis bahwa semua itu akan berlalu, maka energi positif akan memberikan dampak yang positif pula dan bahkan makin produktif. Percaya dan yakin sepenuhnya, Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya (QS Al-Baqarah; 286).
 

***

*) Penulis: Nurul Aziza, Dosen Fakultas Teknik, Universitas Maarif Hasyim Latif

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id