Islam Virtual: Ekspresi Keagamaan Milenial Muslim Urban Indonesia

Islam Virtual: Ekspresi Keagamaan Milenial Muslim Urban Indonesia

TIMESINDONESIA, PAMULANG – Revolusi internet turut melahirkan pergeseran peta baru Islam Indonesia. Jangkar-jangkar teknologi informasi seperti sosial media telah bergeser menjadi sumber-sumber bimbingan bersifat baru generasi milenial muslim urban. Tren hijrah yang sangat ekspresif misalnya, dalam perkembangan kontemporer telah bergeser menjadi pop culture yang banyak digandrungi milenial muslim perkotaan.  

Selain merefleksikan ekspresi keagamaan yang dinamis, menggeliatnya pop culture di ranah keagamaan juga merepresentasikan niat umum bahwa modernisasi, globalisasi, serta re-islamisasi turut membentuk pola pertama beragama di mana seorang muslim bisa menjadi “modern dan taqwa” pada saat yang bersamaan.

Kelompok milenial adalah generasi melek teknologi yang sangat mudah mengikuti tren ataupun pop culture yang sedang menggeliat di berbagai ruang publik terutama ruang publik virtual. Apa dengan menjadi tren di ranah virtual itulah yang akan diikuti, tercatat dalam hal beragama. Inilah dengan disebut Islam virtual; Islam dengan dipenetrasikan melalui kanal-kanal teknologi data.  

Dari perspektif taksonomi pemikiran keyakinan (Islam), Islam virtual tentu tak bisa dipertentangkan atau dikategorisasikan ke dalam model-model pemikiran Islam yang telah ada sebelumnya seperti Islam kultural-tradisional, Islam moderat, Islam liberal, Islam fundamental-konservatif dan pemikiran-pemikilan Agama islam lainnya yang memiliki akar ideologis, basis historis dan infrastruktur jaringan dalam institusionalisasi pemikiran-pemikiran keagamaannya.  

Islam virtual lebih merefleksikan pola hangat beragama masyarakat urban yang hidup terutama generasi milenial. Islam maya adalah tren atau kecenderungan umum yang menjadi budaya populer dalam mana sumber-sumber literasi keislaman diperoleh melalui perangkat-perangkat teknologi informasi serupa social media (youtube, facebook, instagram, twitter), situs-situs Islam atau sumber-sumber digital lainnya.

Islam virtual adalah Agama islam yang lahir dari arena pertarungan simbol, gagasan atau pemikiran keyakinan di ranah virtual. Diakui ataupun tidak, ruang publik virtual telah menjelma menjadi arena kontestasi dakwah Islam kontemporer antar berbagai cucuran pemikiran keagamaan. Karena menjadi zona pertarungan simbol dan gagasan, tempat publik virtual pada akhirnya selalu memunculkan kelompok-kelompok dominan yang memiliki segmen pasar dakwah virtual.  

Lengah satu indikator penting dominasi ataupun penguasaan ruang publik virtual merupakan seberapa banyak   follower dengan dimiliki di tengah ceruk pasar dakwah virtual yang sangat redup. Beberapa Ustadz tampak fokus memedulikan dakwah digital dan bersaing selektif memperebutkan pengaruh dalam arena pasar dakwah virtual tersebut.

Di kalangan milenial muslim perkotaan, nama Ustadz Hanan Attaki misalnya, tentu sangat naik daun sebagai celebrity preacher yang mempunyai follower sangat banyak dari kalangan milenial. Generasi muslim milenial urban boleh lebih menyukai model dakwah Agama islam yang dikemas secara menarik serasi dengan nafas dan denyut nadi modernitas zaman. Dalam bahasa dengan sederhana, ekspektasi generasi muslim milenial urban adalah bagaimana bisa lestari “gaul, tetapi Islami” pada zaman yang bersamaan.

Kecenderungan ini paralel dengan penelitian sebelumya (Farchan; 2020) dengan mengungkap preferensi milenial muslim perkotaan terhadap sumber-sumber literasi dakwah Islam. Dalam konteks ini, terhadap pertanyaan “siapa ustadz yang paling sering Anda diikuti? ”, mayoritas responden (45, 45%) memilih Ustadz Hanan Attaki. Setelah Hanan Attaki, ustadz berikutnya yang dipilih atau disukai responden adalah Qurais Syihab sebanyak 14, 54%, Khalid Basalamah 9, 09%, Felix Saw 8, 18%, Abdul Somad (UAS) 6, 36%, Yusuf Mansyur, Adi Hidayat, serta Rizieq Syihab masing-masing 2, 72%, Gus Miftah, KH. Said Aqil Siradj, dan Cak Nun masing-masing 0, 90%. Sementara itu responden yang menyatakan tidak tahu 5, 45%.

Banyaknya responden yang menyukai Hanan Attaki menggambarkan bahwa generasi milenial muslim urban lebih tertarik secara ustaz berusia muda dan familiar dengan dunia teknologi informasi. Di batas-batas tertentu, kelompok milenial tersebut cenderung tidak mementingkan substansi ataupun konten dakwah, tetapi lebih memasukkan tren dan lifestyle yang pantas berkembang. Hanan Attaki dianggap bisa mewakili genre kalangan milenial urban sehingga konten-konten dakwahnya banyak disukai. Tidak mengherankan jika kanal youtube yang menjadi channel dakwahnya mempunyai lebih dari 1. 32 M subscriber yang didominasi kalangan milenial.

Runtuhnya Otoritas Keagamaan 

Penggunaan social media dan internet sebagai sumber literasi seruan kelompok milenial muslim perkotaan, menandai dua hal sekaligus. Pertama, runtuhnya otoritas keagamaan tunggal yang selama ini menjadi domain organisasi baik keagamaan seperti NU, Muhammadiyah ataupun MUI berikut sumber-sumber rujukan primer otoritas moralnya (pesantren, Kyai serta Ustaz).  

Runtuhnya otoritas keagamaan periode disebabkan karena munculnya otoritas keyakinan baru yang direpresentasikan dalam bentuk jejaring teknologi informasi dan sumber-sumber digital. Sumber literasi dakwah Agama islam generasi muslim milenial urban era ini tidak lagi diperoleh melalui tradisi “nyantri” atau “mondok” sebagai medium “ngunduh ilmu”, tapi diperoleh melalui jejaring digital. Hal ini dapat dipahami sebagai konsekuensi masuk akal dari terbentuknya digital habit pada kalangan masyarakat urban.  

Jika dominasi keagamaan lama disimbolkan oleh pondok atau lembaga-lembaga pendidikan Islam (berikut kyai dan ustaz), maka dominasi keagamaan baru disimbolkan oleh kanal-kanal teknologi informasi seperti youtube, google, dan situs-situs Islam lainnya. Unit sosmed adalah sumber utama literasi generasi milenial muslim perkotaan pada proses pencarian jawaban seputar masalah-masalah keagamaan.  

Dalam konteks ini, buatan penelitian sebelumnya (Farchan; 2020) serupa menunjukkan bahwa mayoritas generasi milenial muslim urban (46%) memilih youtube sebagai sumber utama literasi seruan. Setelah youtube, sumber literasi seruan yang paling sering diikuti merupakan majelis taklim (pengajian tatap muka) sebanyak 23%, portal Islam (internet) 15%, televisi 10%, dan instagram 5%. Sementara itu, yang menyatakan tidak tahu sebanyak 1%.

Pilihan generasi muslim milenial urban terhadap youtube sebagai sumber utama literasi konten dakwah mereka, dapat dipahami sebab youtube menjadi media audiovisual yang paling cepat melakukan transformasi perintah sekaligus mudah diakses oleh siapapun yang memiliki gadget (smartphone) tanpa sekat ruang dan waktu.  

Di perkembangannya, dakwah Islam melalui youtube di tanah air memang merasai peningkatan. Sejumlah dai atau kiai bahkan telah memiliki kanal youtube tersendiri yang dikelola secara terlatih dan memiliki jumlah subscriber signifikan. Rendahnya kohesi sosial di kalangan milenial semakin menjadikan youtube jadi preferensi utama atas sumber-sumber petunjuk moral baru.

Kedua, lemahnya identity (ID) organisasi sosial keagamaan generasi muslim milenial urban. Sejalan dengan buatan penelitian sebelumnya, yang menarik dalam konteks preferensi generasi muslim milenial urban terhadap pilihan ustadz merupakan; mayoritas responden yang berlatar dapur NU, ternyata tidak seluruhnya mengangkat ustadz atau dai berlatar pungkur NU.

Begitu juga dengan yang berlatar belakang Muhammadiyah, tidak seluruhnya menunjuk dai dari kalangan Muhamadiyah. Secara kata lain, identity (ID) sistem sosial keagamaan yang melekat di dalam individu pengikut NU atau Muhammadiyah, tidak berbanding lurus dengan ustadz atau konten dakwah Islam dengan dipilihnya. Realitas ini dapat dimaknai bahwa identity (ID) organisasi baik keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah relatif rendah di kalangan generasi milenial muslim perkotaaan.

Meskipun generasi milenial muslim urban tersebut mewarisi identity (ID) organisasi sosial keagamaan molek secara genetik melalui wali, ataupun dipengaruhi (dibesarkan) oleh lingkungan sosial dan pendidikan-nya, tetapi mereka tak memiliki loyality, ikatan ideologis, ataupun fanatisme terhadap organisasi sosial keagamaan tersebut. Hal ini sekaligus menjelma warning terutama bagi NU & Muhammadiyah terkait dengan literasi konten-konten dakwah mereka baik dalam wujud kurikulum pendidikan, pengajaran dan pengajaran akidah, akhlak dan aspek-aspek dogma lainnya yang tidak lagi mempunyai efek ideologis dan “mengikat” pada pengikutnya.

NU dan Muhammadiyah saat itu dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan penyamunan pasar dakwah yang lebih redup di era virtual. Meskipun dengan infrastruktur kelembagaan pendidikan, NU dan Muhammadiyah memiliki puluhan ribu institusi pendidikan, dari tingkat TK tenggat perguruan tinggi, tapi realitas menyajikan fakta lain di mana identity (ID) organisasi sosial keagamaan tingkatan milenial mereka cenderung melemah.  

Tingkatan milenial urban dari kalangan NU dan Muhammadiyah tampak lebih terseret dengan genre “Islam virtual” yang dipopulerkan oleh celebrity preacher serta dipenetrasikan secara simbolik melalui budaya populer di lingkungan masyarakat urban melalui kanal-kanal teknologi informasi.

Sejauh tersebut, ruang publik virtual tampak dikuasai dan didominasi oleh kelompok-kelompok Agama islam non mainstream yang sudah eksis sebelumnya. Mereka mampu memenangkan medan perebutan pengaruh (influencer) di rekan dakwah virtual karena kelihaian mereka dalam membaca selera pasar pertama kalangan milenial urban.

“Islam virtual” bakal terus mencari formula idealnya serta menjadi ekspresi dinamis kalangan milenial urban Indonesia karena dianggap mengusulkan totalitas solusi atas krisis individualitas muslim yang mereka alami. Krisis identitas ini merupakan akumulasi dibanding kegersangan spiritualitas yang dialami muslim perkotaan karena efek modernitas dengan menyisihkan nilai-nilai agama dari bidang publik sebagaimana lazim terjadi di berbagai kota di dunia.  

Hadirnya Islam virtual dengan corak ideologinya yang beragam, dari yang “konservatif” hingga “liberal”, menyuguhkan fakta lain di mana revolusi teknologi data justru dapat digunakan secara meyakinkan untuk menyemaikan benih-benih kebajikan biar pemeluk agama (Islam) tidak terperangkap dan jatuh pada ruang hampa di mana modernitas seringkali mengemukakan goncangan spiritualisme di kalangan muslim urban.

***

*) Oleh: Yusa’ Farchan, Dosen Universitas Pamulang, Peminat Analisis Sosiologi Agama.

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik pendapat di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan bagian telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan pemikiran yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.