Gugatan Penyiaran dan Lumpuhnya Rumpun Kreativitas

Gugatan Penyiaran dan Lumpuhnya Rumpun Kreativitas

TIMESINDONESIA, MALANG – Sepanjang perjalanan teori komunikasi dari masa ke masa menghendaki perubahan teknologi secara ekstravaganza pada tataran praktis maupun sistemik. 

Tak terkecuali lahirnya new media (media baru)  yang hari ini tentu masih berpijak pada sejarah panjang perkembangan teknologi komunikasi. 

Seiring perkembangannya, media lama seperti radio, surat kabar, televisi dan segala macam lainnya terkesan agak kurang peminat sejalan dengan kemajuan internet dan media digital. 

Ditambah lahirnya platform raksasa seperti youtube, instagram, facebook dan sebagainya pada 2 dekade terakhir ini membuat media konvensial cukup kelimpungan dalam menyuguhkan konten yang saat ini sukar diminati masyarakat. 

bagaimana tidak, tanpa mereduksi segala yang prinsipil bahwa kenyataannya masyarakat cenderung bergeser untuk menyaksikan tayangan visual digital di YouTube dan beberapa kanal lainnya dibanding menonton tayangan yang disajikan media konvensional.

Hanya dengan modal internet, orang-orang lebih memilih untuk menggali informasi, menyaksikan konten, atau sekedar mencari hiburan melalui gawainya masing-masing di sosial media. 

Kemudahan teknologi membuat sebagian besar kita mengambil peluang besar untuk berekspresi selebar-lebarnya. para pembuat konten (content creator) seakan berlomba membuat konten yang mampu disukai banyak orang – kendati mungkin kenyataanya banyak yang tidak suka, bisa jadi kita bukan bagian dari sasaran pasarnya. 

Terlepas hal itu, ramai isu terkait gugatan penyiaran yang diajukan oleh salah satu media televisi konvensional kepada mahkamah konstitusi. Isi daripada gugatan tersebut adalah pasal 1 ayat 2 tentang UU penyiaran yang berbunyi “Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.” pasal tersebut dinilai sebagai regulasi perlakuan yang berbeda antara media konvensial dan media digital.

Seperti yang diketahui, isi pasal tersebut hanya mengatur penyiaran konvensional dan tidak mengatur penyiaran yang menggunakan internet. Alih-alih menuntut keadilan dan kesetaraan, gugatan tersebut tentu berdampak bagi para konten kreator yang menyajikan konten di beberapa platform media.

Sebab, peraturan yang berlaku bagi media konvensial seperti televisi akan juga sama berlaku bagi penyiaran yang menggunakan internet. Hal ini dinilai sebagai ancaman kebebasan berekspresi dari sejumlah konten kreator.  Terlepas hal itu, banyak pihak yang beranggapan bahwa media konvensial hanya mementingkan kepentingan bisnis dan pasar ketimbang isi dan mutu dari konten itu sendiri.

Lumpuhnya rumpun kreativitas

Gugatan pemohon mungkin menguntungkan bagi industri media konvensional, namun hal itu juga menjadi ancaman besar bagi citizen journalism dan banyak content creator lainnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa konten yang baik bukan hanya berorientasi pada hiburan semata, melainkan juga edukasi yang mampu menumbuhkan kecerdasan publik melalui konten-konten yang disajikan melalui internet. 

Anak muda hari ini sedikit banyak telah mengambil peran dalam ruang kreatifitas di dunia maya. Landscape pengetahuan dan keilmuan juga turut dibangun oleh banyak konten kreator untuk memupuk inovasi bagi masyarakat luas.

Dalam soal gugatan yang diajukan oleh perusahaan media konvensional itu, Banyak pihak memandang bahwa gugatan penyiaran akan sangat membatasi ruang gerak para pelaku digital dalam berkarya. Banyak diantara Artis dan YouTuber yang juga turut mengecam gugatan tersebut.

Setali tiga uang, padahal bisa dibilang Internet dan digitalisasi hari ini membuat banyak orang merasa lebih mudah untuk mengakses apa yang sebelumnya sulit dijangkau. Kenyataan ini membuka kesempatan banyak orang untuk melihat dunia sejengkal lebih dekat.

Inovasi dan pembaharuan ide serta gagasan kita hari ini tentu dapat disalurkan dengan sangat efektif melalui platform yang hari ini digandrungi oleh banyak orang pula – apalagi kalau bukan internet dan media sosial. 

Ditambah di tengah banyaknya tantangan dan arus perkembangan. inovasi dan kreativitas menjadi senjata penyeimbang yang tak lekang oleh zaman. Anak muda yang hari ini memaksimalkan peluang melalui gadget dan ruang digitalisasi tentu membuka banyak kesempatan dalam keikut-sertaannya mengawal peradaban.

Tumbuh kembangnya kreativitas tentu akan sejalan dengan minimnya aturan konvensional terkait penyiaran. Sebab segala aspek digitalisasi tentu mengilhami semua untuk berekspresi seluas-luasnya. tanpa harus ada batasan yang mutlak mengikat. 

Hal ini yang justru menghidupkan energi baru dalam kompetisi yang serba global. Gaung literasi digital dan media akan sangat sulit terealisasikan jika pemerintah dan sebagian pihak menutup rumpun kreativitas warganya. 

Kemudahan teknologi membuka peluang kita untuk melek dan banyak belajar. tanpa harus adanya batasan yang justru mungkin hanya menguntungkan satu atau dua golongan. 

Maka sejatinya biarlah aturan dan pandangan baik benar ada pada kita semua. kita sebagai pengguna, penikmat serta pelaku digital. bukan pada kendali hukum dan aturan yang tanpa dasar. 

***

*)Oleh: Zulfikri Nurfadhilla, Ketua Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia Cabang Malang Raya.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.