Bersyukur dengan yang Kita Punya Adalah Tiket Kebahagiaan

bersyukur-dengan-yang-kita-miliki-adalah-tiket-kebahagiaan-1

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Seringkali kita mengeluh akan kehidupan yang kita jalani. Padahal bisa jadi, orang asing tengah berharap mempunyai kehidupan seperti yang kita miliki. Lagi-lagi kita tidak bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah Swt.

Banyak mengeluh, iri dengan kehidupan orang lain, serta tak jarang menyalahkan Allah Swt atas apa yang terjadi pada diri kita. Morat-marit bagaimana dengan kata syukur itu?
Bersyukur ialah menerima segala apapun dengan Allah Swt berikan, melaksanakan kehidupan yg sudah ditentukan oleh Allah Swt. intinya adalah menerima segala sesuatu dengan ikhlas, tabah serta sabar.

Rumus kebahagiaan tersebut sangat sederhana. Bahagia tersebut adalah ketika kita berkecukupan untuk mensyukuri apa dengan kita miliki. Bukanlah secara bahagia kita bersyukur, tetapi justru dengan rasa syukur itulah kita bisa menjelma bahagia.

Tugas kita era ini hanyalah bagaimana menggunakan apa yang kita punya dengan baik, dengan bijak, dan dengan optimal jadi bentuk rasa syukur kita. Memiliki mimpi dan target tentu saja boleh, namun semua itu akan berperan ketika kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki.

Lantas Bagaimana Jalan Kita Agar Bisa Lebih Mudah Mensyukuri dengan Barang apa yang Kita Miliki?

1. Menyadari bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dibandingkan kita.

Banyak dibanding mereka yang lebih bangsat, lebih susah hidupnya, dan bahkan memiliki kondisi kesehatan tubuh dan fisik yang tak lengkap. Mengapa kita sedang sulit juga untuk bersyukur?

2. Kita masih dikasih kesempatan hidup hingga keadaan ini, detik ini, padahal masa hidup kita itu terbatas.

Apa artinya? Kita masih bisa memperbaiki kelengahan kita di masa berserakan, berbuat yang terbaik buat masa kini, dan mengecap prestasi gemilang di kala yang akan datang.

3. Semua yang kita perlukan itu tidak perlu bayar.

Bayangkan nikmat udara dan organ-organ tubuh yang tersedia pada kita misalnya. Kita bisa bernapas dengan gratis, bisa melihat, dan organ-organ tubuh kita lainnya berjalan sesuai dengan fungsinya per.

Tidak Pernah Merasa Pada

Ada sebuah cerita dengan dulunya pernah saya mengucapkan mengenai seorang bapak yang pekerjaan sehari-harinya adalah Tukang Becak yang hidup mudah, pada suatu hari, tempat melihat seseorang yang berjalan didepannya dengan mengendarai mobil yang sangat mewah dihadapannya, dengan pakaian yang sangat ketat mengenakan jas pasti tempat adalah orang kaya yang kerja di perusahaan gembung dan dia adalah lupa satu boss dari perusahaan yang ada di jati kita ini.

Kemudian bapak tukang becak ini melamun dengan ilusi antara langit dan bumi, “Andai Saya bisa hidup seperti orang yang didalam mobil itu, dengan penuh kemewahan positif Hidup ini terasa Sempurna”.

Disaat yang sama, Bapak yang didalam mobil itu pun merasakan hal yang serupa dengan masalah-masalah yang dihadapinya dalam bisnis yang sangat banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapinya manajemen konflik yang terus dihadapinya.

Diapun melihat pada tukang lanca yang sedang santai di kursi becaknya walau pun hidup sederhana tapi itu bisa menikmati kehidupan ini dengan penuh keceriaan kira-kira tanpa masalah yang dihadapinya, lalu beliau berkata di dalam hatinya, “Andai saja Kami bisa seperti bapak pakar becak itu, tanpa penuh masalah seperti yang Beta alami sekarang ini, pasti Saya bisa lebih menikmati hidup ini dengan tenang dan bisa selalu menikmati hidup bersama orang-orang tercinta”.

Dari dongeng atau cerita diatas ini, Kita bisa mengambil Hikmah bahwasanya, Bani adam tidak pernah merasa tenang dengan keadaan yang diterimanya. Sudah bergelimang harta dan kedudukannya yang tinggi, tak membuat mereka mensyukuri apa yang mereka dapatkan semasa ini. Begitu juga bila hidup walau tidak berlebihan harta dan kedudukan, tapi memiliki kehidupan yang cukup dan harmonis.

Semoga kita terus mensyukuri atas seluruh yang kita dapati semasa ini.
Ingat sejak rezeki yang kita punya, ada didalamnya rezeki buat orang lain. Masih banyak diantara kita yang dibawah kita yang hidup sederhana yang sedang bisa bersyukur atas segala nikmat yang diberikannya. Dan juga kita bisa menanggapi orang-orang disekitar kita yang masih banyak perlu bantuan dari kita. (*)